Sabtu, 30 November 2019

Pendalaman Terapi Sholat Bahagia

Terapi Shalat Bahagia tak jauh berbeda dengan shalat umumnya. Terapi Shalat Bahagia dilengkapi dengan merenungi poin-poin di setiap gerakannya. Kemudian, shalat bahagia ini dianjurkan untuk shalat yang dilakukan sendirian, tidak untuk berjamaah. Terapi sholat bahagia diterapkan agar kualitas sholat kita lebih meningkat dan lebih khusyu’. Dan sekarang ini masih banyak orang yang resah gelisah karena merasa kurang bahagia, maka penerapan sholat bahagia ini menjadi salah satu alternatif. Dan sholat juga bisa membantu kita untuk menyelesaikan masalah. Berangkat dari sana maka tujuan dari adanya terapi shalat bahagia ini, agar kita sadar bahwa selama ini kualitas shalat kita masih kurang. Tak perlu jauh untuk memahami satu-satu bacaan kita, untuk jelas dan sadar dalam membaca ayat demi ayat aja terkadang kita teledor. Kemudian kita belum sadar bahwa shalat adalah sebuah alat, alat yang dapat kita gunakan untuk meraih kebahagian, namun karena kita belum mengerti bagaimana cara yang baik dalam menggunakanalat  itu maka fungsi alat tersebut berkurang, bahkan tidak ada. Dengan hadirnya terapi shalat ini, maka tujuannya adalah agar kita sadar dan dapat meraih kebahagiaan melalui shalat yang selama ini kita lakukan.
·         Proses atau langkah-langkah Terapi Shalat Bahagia
Terapi Shalat Bahagia sama dengan shalat-shalat yang kita lakukan selama ini. akan tetapi perbedaanya adalah, di dalam shalat ini kita memahami pokok-pokok yang terkandung dalam enam gerakan di dalam shalat. Di antaranya adalah:
a. Berdiri, saat berdiri kita membaca Al-Fatihah, di dalam Al-Fatihah ada poin-poin atau pokok-pokok yang terkandung yang mesti kita renungi dan kita hayati saat berdiri tadi. Poin-poinnya adalah Syukur, Bimbingan dan Ketahanan Iman, atau biasa disingkat SUBHAN. Setelah membaca Al-Fatihah kita merenungi poin syukur, kita bersyukur ini itu, selanjutnya poin bimbingan dan selanjutnya ketahanan iman.
b. Rukuk, saat rukuk juga kita merenungi poin-poin di dalam doa yang kita baca saat rukuk. Dan poin yang terkandung adalah Tunduk dan Menurut atau disingkat TURUT. Jika kita renungi dan kita pahami dalam doa yang kita baca dalam rukuk, kedua poin inilah yang mewakili atas arti dalam doa tersebut. setelah membaca doa rukuk lalu kita merenungi makna poin TURUT tadi.
                                                                                                                              
 c. I’tidal, atau bangkit dari rukuk. Saat i’tidal kita juga merenungi poin yang terkandung di dalam doa yang kita baca, yakni hak pujian dan takdir atau biasa disingkat TAKDIR. Kita membacanya setelah selesai membaca doa i’tidal terelebih dahulu, dan poin-poin iti kita renungi hanya di dalam hati. Dalam poin ini kita menyadari betul bahwa Allah adalah dzat yang maha dipuji tak ada pujian yang lebih besar
terhadap-Nya. d. Sujud, dalam gerakan sujud poin yang harus kita pahami adalah poin Maaf,
Sinar Jiwa dan Raga atau yang biasa disingkat MASJID. Uniknya semua poin itu disingkat dengan baik dan mudah diingat.
e. Duduk antar dua sujud, di dalam gerakan ini kita juga merenungi dan menghayati poin-poin yang terkandung di dalamnya, yakni Ampunan, Kasih, Sejahtera dan Iman. Keempat poin tersebut disingkat AKSI. Poin-poin ini direnugi dan dihayati setelah selesai membaca doa duduk antara dua sujud. Di sini kita banyak curhat masalah kita dan konflik yang kita rasakan, di renungan ini kita benar-benar bisa meneteskan air mata kita karena menyadari betapa banyaknya dosa yang telah kita perbuat.
 f. Duduk tasyahud awal/akhir, di gerakan yang keenam dan gerakan terakhir untuk terapi shalat bahagia, kita juga merenungi poin-poin yang terkandung di dalamnya, poinya adalah Shalwat, Persaksian dan Tawakkal, dan disingkat SOSIAL. Ketiga poin itu kita renungi dan kita hayati serta kita maknai sedalam-dalamnya ketika setelah membaca doa duduk antara tasyahud awal atau akhir.
 Kita  dianjurkan untuk kita yang shalat sendirian, dan tidak diperuntukkan untuk shalat berjamaah. Maka yang selama ini kita mengira bahwa kita hanya berdoa di waktu sujud, kita akan sadar bahwa setiap gerakan dalam shalat dapat menjadi waktu kita untuk curhat dan memohon kepada Allah. Sebelum melaksanakan shalat kita harus berwudu dengan cara yang baik, yaitu dengan merenugi dan bersyukur atas air dan berdzikir juga melalui air yang dibasuh ketubuh melalui air tersebut. kemudian berpakaianlah yang rapi nan bersih lalu shalatlah dengan metode terapi shalat bahagia, maka semoga kita akan meraup kebahagian, baik kebahagian rohani dan kebahagiaan jasmani.
·         Proses Pelaksanaan Terapi Sholat Bahagia
Terapi sholat bahagia dilaksanakan dalam bentuk pelatihan dan pendalaman. Pelatihan ini dilaksanakan pada tanggal 23 November 2019. Pada pelatihan ini diisi oleh Ibu Ati’ Nursyafaah, M. Kom,I dan Ibu Baiti S.sos I, Asistennya Prof. Dr. H. Moh. Ali Aziz, M. Ag selaku founder, pencetus dan pelatih dalam terapi ini. beliaulah yang mencetuskan pertama kali pelatihan ini di Indonesia bahkan dunia.. Saya sebagai mahasiswa semester 1 yang baru belajar mengenai terapi sholat bahgia ini sangat bersyukur bisa dibimbing oleh pencetusnya langsung bersama teman-teman sekelas saya. Peserta terapi sholat bahagia merupakan mahasiswa semester 1 yang dibimbing oleh Prof Ali dari kelas MD, BKI, ILKOM, dan KPI. Kita dibimbing langsung dan di praktekkan langsung dengan bimbingan dari beliau . Sebelum pelaksanaan pelatihan, yang di mana di dalam pelatihan tersebut akan dilakukan terapinya, Kita diberikan buku panduan terapi sholat bahagia yang hanya diberikan kepada peserta yang mendapat kesempatan pendalaman terapi sholat bahgia yang dilaksanakan bersama Prof.Ali Aziz M. Ag.
Jam 06.00 WIB kita harus sudah berkumpul di Kun Yaquta yakni tempat berlansungnya pendalaman terapi sholat bahagia. Jam 08.17 WIB, pelatihan dimulai. Pelatihan ini dilaksakan di Kun Yaquta. Pelatihan Terapi sholat bahagia diawali dengan pengenalan pemateri, latar belakang dan penjelasan tentang Kun Yaquta, yaitu lembaga yang memiliki kewenangan untuk merawat, mengatur dan mengmebangkan pelatihan terapi sholat bahagia. Panjang lebar pemateri menjelaskan bagaiamana, awalnya terapi sholat bahagia ini dapat hadir di hadapan kita semua. Apakah hal itu hanya tiba-tiba dan proses mermuskan terapi sholat bahagia semudah membalikkan telapak tangan?.  Jam 08.40 materi terapi sholat bahagia mulai dijelaskan perlahan namun pasti oleh pemateri. Dari aura dan sikap pemberian materi oleh pemateri, terlihat bahwa beliau mempunyai jam terbang tinggi untuk urusan retorika dan public speaking. Karena tutur katanya teratur, pemilihan diksi yang baik dan mudah dipahami setiap kalangan dan tidak terdengar berbicara ke-ilmiah-an.  Pemberian materi sebelum praktik untuk terapi sholat bahagia, menggunakan LCD sebagai media yang membantu pemateri menyampaikan materinya. Ruangan yang menjadi pelatiahnnya dikonsep menjadi tempat pelatihan senyaman mungkin dan senikmat mungkin. Selain dilengkapi dengan AC, lantai juga dilapisi dengan karpet.

 Peserta mengikuti pelatihan ini terlihat antusias, hal ini dibuktikan dengan banyaknya yang bertanya dengan pemateri dan hampir 100 persen tidak ada yang ngantuk apalagi tertidur. Di sela- sela pelatihan, pemateri juga menyelipkan nasihat-nasihat dan pegangan dalam hidup. Pemateri menekankan agar manusia tidak mudah mengeluh. Sesai firman Allah yang disampaikan oleh Nabi Muhammad, Barang siapa yang tidak terima dengan baik dan buruknya takdir, maka carilah Tuhan selain aku.
Jam 10.19 pemateri mulai menjelaskan tentang pokok-pokok yang menjadi inti dalam terapi sholat bahagia. Setelah saling melafalkan bacaan pokok-pokok terapi sholat bahagia, peserta mulai diajak untuk memperaktekannya. Saat praktik ini, salah seorang dipilih oleh pemateri untuk menjadi sampel, sehingga memudahkan peserta lainnya untuk melihat keabsahan gerakan sholat yang benar. Terapi sholat bahagia dilakukan dengan merenungi pokok-pokok dalam enam gerakan sholat. Yakni, Pokok (1) Subhan (Syukur, Bimbingan dan Iman) ini direnungi saat berdiri setelah membaca Al- Fatihah, (2) Turut (tunduk dan menurut) ini direnungi saat rukuk setelah membaca doa rukuk, (3) Hadir (Hak Pujian dan Takdir) ini direnungi saat bangkit dari rukuk, ketika i’tidal, (4) Masjid (Maaf, Sinar, Jiwa dan Raga) ini direnungi saat sujud, (5) Aksi (Ampunan, Kasih, Sayang dan Iman) ini direnungi saat duduk antar dua sujud, (6) Sosial (Sholawat, Persaksian dan Tawakkal) ini direnungi saat duduk tasyahud awal/akhir.
Setelah dihapalkan dan dilafadzkan bersama agar semua peserta mudah dalam memperaktekkannya, peserta diminta untuk menulis daftar masalah, dan daftar anugerah dalam hidupnya. Apapun masalahnya, terlebih lagi tentang kecemasan yang dirasakan oleh peserta. Saat penulisan ini, musik diputar agar memberikan suasana yang nyaman.
 Kemudian, peserta diminta untuk membaca ulang daftar-daftar tersebut dan dihapal, karena saat praktek shalat semua daftar tersebut akan dicurahkan. Jika kita mengucapkan dan memperaktekkannya maka, keberhasilan dalam suatu hal akan mencapai 90%. Lalu peserta mulai berdiri mengambil posisi shalat, dan mulai mengikuti intruksi yang diberikan oleh pelatih juga trapis. Peserta diminta mempraktekkan gerakan demi gerakan dan memahami dan merenungi poin-poin yang telah diajarkan dan dihapalkan sebelumnya. Saat berdiri setelah takbiratul ihram dan membaca Al-Fatihah, peserta merenugi poin SUBHAN, yakni syukur, bimbingan dan ketahanan iman. Dalam poin syukur ini peserta diminta untuk menyebutkan daftar anugerah yang telah ditulis sebelumnya, dengan begitu kita akan menyadari betapa banyaknya anugerah yang kita miliki, namun kita masih tamak dan tak pernah merasa cukup. Setelah berdiri kemudia Rukuk, saat rukuk peserta membaca doa rukuk sebagaimana biasanya, kemudian poin- poin yang didalamnya dibaca dan direnungi, adapaun poinnya adalah tunduk dan menurut. Pada gerakan adalah sikap penghambaan diri kita kepada Allah, betapa hinanya kita dan kita rela dan menurut unutuk dipenggal leher kita, hal mengajarkan bahwa kita siap diapnggil Allah kapan saja. Dalam rukuk, kita mencurahkan segala masalah-masalah kita dan memasrahkan bahwa Allah lah yang mengatur segalanya. Pada gerakan selanjutnya I’tidal. Dalam gerakan ini kita merenugi poin Hadir. Selanjutnya gerakan sujud, setelah membaca doa sujud, kita diminta untuk merenungi poin-poin dalam sujud, yakni Masjid. Saat sujud ini kita kembali mencurahkan isi hati kita kepada Allah, mecurahkan keluhkesah kita, masalah kita dan kecemasan serta kegundahan yang kita rasakan. Saya kasih contoh misalnya kita punya masalah suka ke dapur bolak-balik hanya karena kurang yakin apakah kompor sudah mati atau masih nyala. Maka yang kita ucapkan adalah:
1. Wahai Allah, saya memiliki masalah dengan keyakinan saya, bahwa saya sering ragu apakah saat mematikan kompor benar- benar mati
2. Wahai Allah, saya ikhlas dan ridlo dengan masalah tersebut dan saya tidak mengeluh, dan berusaha untuk memperbaikinya.
3. Wahai Allah, saya yakin, yakin, yakin, Engkau pasti, [asti, pasti Mahakuasa memberi hamba kayakinan dan pikiran positif dan dapat menyelesaikan masalah saya, agar saya ketika mengerjakan sesuatu benar-benar tuntas
4. Wahai Allah, saya pasrah dengan apa yang Engkau tentukan, karena semua ketentuan-Mu adalah ketentuan yang terbaik.
Setelah praktik tersebut pemateri mengajak peserta untuk tunduk dan meresapi pertanyaan-pertanyaan yang diberikan pemateri dengan menjawab dengan dua jawaban, pertama Iya kemudian dilanjut dengan Astaghfirullah dan kedua Tidak dan dilengkapi dengan Alhamdulillah.


Kemudian di akhir pemateri membaca doa untuk kembali menghayati apa-apa yang sudah kita lakukan, dan mengintropeksi diri dan bermuhasabah dengan banyaknya dosa yang sudah kita perbuat. Kemudian pemateri menutup dengan memberikan semangat kepada peserta untuk terus memperbaiki sholat dan menjadikan sholat sebagi sumber kehidupab, karena dengan begitu kecemasan-kecemasan yang mengganggu kita dapat berkurang bahkan hilang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar